|
Prof Dr dr A Budisantoso yang juga dikenal sebagai Ketua Tim Pelaksanaan Pemberdayaan Lulusan SMA dari Keluarga Miskin untuk masuk 51 Perguruan tinggi Negeri tahun 2005 –2008, meluncurkan proyek Beasiswa Masuk Universitas (BMU) bagi siswa pandai keluarga Miskin tahun 2005 di kalangan masyarakat dan pelajar Indonesia yang berada di Kerajaan Ratu Elizabeth. Peluncuran proyek BMU di Inggris adalah untuk yang kedua kalinya setelah Jepang dan diharapkan Prof Budisantoso juga akan melakukan hal yang sama di Paris, Jerman dan juga di Amerika Serikat dalam waktu dekat, disela-sela dirinya mengikuti seminar di luar negeri. "Saya kesini dibiayai oleh salah satu perusahaan Farmasi, kan nggak mungkin saya pakai uang dari BMU, yang pasti sih biaya dari istri " ujar Prof Budisanto, sambil menunjuk sang istri mantan ketua Ikatan istri Dokter Indonesia (IID) setelah dari Inggris akan ke Paris dan jerman untuk mengikuti seminar tentang Penyakit Diabetis Acara diawali dengan makan siang di Restauran Malaysia yang terletak di lantai bawah gedung yang terletak di pojok jalan, menu rendang, ayam goreng dan sambel goreng terong serta balado paru itu terasa nikmat dalam udara musim semi Inggris dimana bunga-bunga yang berwarna warni mulai bermekaran, serta pohon-pohon yang tadinya gundul karena daunnya pada berguruan kini mulai menampakan putiknya. Di pintu masuk ruangan Anna, demikian Novriana Sumarti, yang tengah menyelesaikan Phd di Imperial College London minta para undangan mengisi daftar tamu disertai sumbangan seiklhasnya untuk biaya makan siang, Prof Budisantoso beserta istri menyantap makan siang sementara dimeja lainnya Ria W Pawan, perwakilan Indometal dan Dina Shana Laila yang juga tengah menyelesikan pendidikan di Imperial College tengah menikmati santapan masakan Malaysia yang memang tidak jauh berbeda dengan selera orang Indonesia. Usai makan siang, Ardie Purwodihardjo , pengagas proyek BMU di UK bersama Prof Budisantoso tampil dimuka dan memberikan penjelasan tentang proyek BMU yang diluncurkan untuk yang kedua kalinya di luar negeri setelah Jepang. Presentasi yang dilakukan Prof Budisantoso penuh dengan gelak tawa meskipun materi yang disampaikan cukup berbobot dan menyangkut masa depan bangsa Indonesia. Prof Budisantoso bercerita bahwa proyek BMU untuk siswa pandai dari keluarga miskin ini awalnya dari Panguyuban Rektor se Indonesia yang merasa prihatin akan nasib anak-anak dari keluarga miskin yang pandai namun tidak bisa melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Selain itu masa pemerintahan Republik Indonesia tengah dilanda krisis pada saat itu membuat semakin sulitnya anak-anak yang berprestasi dari kalangan keluarga miskin untuk berangan-angan masuk Perguruan Tinggi. Maka di tahun 1999, Prof Budisantoso yang saat itu menjabat Rektor UI mengajukan permohonan bantuan kepada Prof BJ.Habibie yang menjabat Presiden RI. Dari dana yang dikucurkan oleh Habibie, BMU berhasil membantu sebagian anak-anak pandai dari keluarga miskin untuk masuk perguruan Tinggi. Saat itu tercatat jumlah penduduk miskin sekitar 80 juta, anak-anak pandai dari keluarga miskin memang tidak banyak hanya 3.600 lulusan SMA yang melamar proyek BMU. Dari tahun ke tahun proyek BMU berjalan hingga angkatan ke enam di tahun 2004, yang menjadi donatur pun dari berbagai kalangan diantaranya dari Yayasan Supersemar dan Mandiri, dari Wakpres Megawati, Duafa Republika, Indofood dan juga dari para alumi FE, FH UI serta Prof BJ Habibie. Selama enam tahun BMU telah memberikan beasiswa mengikuti SPMB (BM-SPMB) kepada 14.167 siswa dan bantuan biaya pendidikan (BBP) untuk 4.682 mahasiswa di seluruh tanah air. Untuk melestarikan program ini, Prof Budisantoso mengajak para dermawan khususnya masyarakat Indonesia yang berada di Inggris untuk membantu penyediaan beasiswa masuk Universitas yang terdiri atas BM-SPMB (Beasiswa mengikuti SPMB) yang terdiri dari pembelian formulir pendaftaran dan uang saku selama tiga hari sebesar Rp 250 ribu atau 16 pound untuk satu siswa. Selain itu bantuan biaya pendidikan (BBP) terdiri dari SPP sebesar Rp 1.000.000 setahun dan biaya hidup selama setahun sebesar Rp 150.000 per bulan. Pendekar Orang Miskin Prof Budisantoso tidak malu disebut dengan Pendekar orang miskin yang julukan itu melekad dalam dirinya. "Saya senang dikenal sebagai Pendekar Orang Miskin," ujarnya. Dan dia juga sering berkeliling kampung untuk mencari anak-anak pandai yang akan mendapatkan beasiswa. "Saya banyak menemui anak-anak dari keluarga miskin yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi," ujarnya. Ada satu keluarga yang ibunya penjual nasi uduk dan bahkan ada ayahnya yang bekerja menjadi TKI di luar negeri. Dengan rasa bangga Prof Budisantoso mengajak anak-anak itu untuk ikut dalam proyek BMU. Diakuinya beasiswa itu tidak diberikan begitu saja melainkan diberikan secara kompetitif kepada lulusan SMA yang pandai dari keluarga miskin di seluruh Indonesia. Para penerima beasiswa harus mengisi formulir dengan berbagai data dengan sejujurnya, hal ini diakuinya bahwa dengan keterbatasan dana dari panitia hanya sepatuh pelamar yang menerima BMU. Untuk itu ada metode dan cara seleksi yang sangat ketat bagi pelamar yang dibagi dalam tiga tahap yang pertama pada bulan Maret dimana siswa SMA yang ingin melanjutkan pendidikannya mengajukan lamaran, setelah itu seleksi kedua dengan ketentuan matematika bernilai 7, Bhs Inggris paling tidak 6 dan gaji orang tua tidak lebih dari 500 ribu. Dan baru pada seleksi ketiga dilakukan secara nasional untuk 49 perguruan tinggi negeri yang tersebar di seluruh tanah air. Ke 51 PTN itu tersebar dari Sumatera di Unsyiah, USU, Unimed,UNRI,UNJA,Unand,UNP UNIB,UNSRI dan UNLA sampai pada di pulau Jawa seperti UI UNPAD,ITB,UNBRA, dan di Bali Udayana, serta di Kalimantan UNTAN dan UNPAR, serta di Sulawesi UNSRAT dan UNTAD serta di Irian Jaya UNIPA dan UNCEN. "Saya harapkan tahun ini bertambah dua perguruan tinggi negeri lagi, ujar Prof Budi yang juga dokter ahli diabetis Untuk tahun ini memang lebih difokuskan pada anak-anak korban Stunami, ujar Prof Budisantoso yang pada awal acara diadakan upacara mengheningkan cipta dengan kejadian gempa bumi yang melanda Sumatera Barat. Acara yang berlansung dengan sangat sederhana itu hadir antara lain mantan alumni UI, ITB dan juga mereka yang yang tengah melanjutkan pendidikan di UK dan yang juga sudah bekerja diantaranya Halimah Tusadiah, Boetje Bismart, Mira Soetjipto, Benni dan Melati Adhan, Vincent Rainardi dan Ivana, hendra, Harijadi Witjaksono yang biasa dikenal dengan Sonny dan Sasa, Junanto, Doddy Endrojono, Iwan Junianto, Dian Andyasuri serta Henny, istri Ardie Menurut Ardie, Prof Boedisantoso merasa senang dengan pertemuan yang tersebut dan juga atas tanggapan positif terhadap kepedulian untuk memikirkan nasib bangsa melalui jalur pendidikan Ardie juga melaporkan dari hasil pertemuan yang dihadiri 28 undangan termasuk anak-anak itu terkumpul dana sebesar 315 pound, sesuai dengan rencana dari biaya yang terkumpul dikurangin untuk makan seharga £5 perorang, sisanya disumbangkan ke BMU, yang berjumlah 175 pound , Namun dari hasil pembicaraan Prof Boedisantoso justru menanggung sepenuhnya makan siang dari kantong pribadinya . Jadi dana yang terkumpul sebesar 315 seluruhnya disumbangkan untuk BMU. Bagi yang ingin menyumbangkan dan memberikan bantuan ada beberapa katagori yaitu sebasar Rp250.000/£16 untuk BM_SPMB bagi satu siswa, atau sebesar satu juta atau £62.5 untuk membantu membayar SPP untuk dua semester untuk satu mahasiswa, atau sebesar Rp1.250.000 atau £78 membiayai BM-SPMB dan SPP selama dua semester untuk satu mahasiswa. Selain itu juga dibutuhkan sumbangan untuk membantu biaya hidup selama 12 bulan untuk satu mahasiswa sebesar Rp1.800.000 sama dengan £112.5 atau sebesar tiga juta atau sekitar £191 untuk paket BM-SPMB, membayar SPP dua semester dan biaya hidup selama 12 bulan untuk satu mahasiswa. Pada pelaksanaannya nanti, Prof Budisantoso akan memanggung biaya transfer pengiriman dana untuk BMU yang terkumpul dari para donatur di UK, Prof Budisantoso juga berjanji akan melaporkan nama-nama peserta SPMB yang telah dibantu saat kunjungannya ke UK pada bulan September mendatang. By Zeynita Gibbons |
| ivana October 4, 2006 10:52 PM PDT mohon bantuan beasiswa. apakah BMU bisa diperpanjang | ||
| nashzem June 21, 2006 08:41 PM PDT beri tahu dan kirimkan info beasuswa yahun ini ,terima kasi | ||
| matias yogi October 20, 2005 04:56 AM PDT kami datang kehadapan bapak untuk memberikan beasiswa bagi kami yang orang tua tak mampu | ||
| Leave a Comment: |