My Stories; My Life ..... from England's Oldest Recorded Town

by LKBN ANTARA's News Correspondent for the UK and Europe - 'Berita Langsung dari Sumbernya'

        Image hosted by Photobucket.com



   

Assalamu'alaikum wr.wb   

Memasuki Milenium 2001, saya Zeynita Gibbons mengawali hidup baru di negeri Kerajaan Ratu Elizabeth, Inggris.

Bersama suami JDR Gibbons (Jay) dan dua anak yang berangkat dewasa Anastasia Leah Gibbons dan Brenden Kayne Gibbons merajut hari-hari yang penuh Rahmat Allah di Colchester, Essex di UK.




   

Selamat datang ke blogku ini. Bila anda akan mengadakan acara di UK ataupun negara Eropa yang layak diberitakan lewat media massa Indonesia, silahkan hubungi saya agar acara tersebut terliput. Terima Kasih.







 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 









Links:

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

  

Music:

More Coming Soon !

Lady Gaga - Just Dance

Foo Fighters - The Pretender

Emma Bunton-What took you so long

Disturbed-Down with Sickness

Disturbed-Remember

Velvet Revolver-Slither

AudioSlave-Cochise

Nickleback-Figured You Out

Santana-Smooth

Killswitch Engage-My Curse

White Zombie-More Human than Human

Shinedown-Fly From the Inside

Metallica-Wherever I May Roam

Disturbed-Stricken

Korn-Twisted Transistor

Finger Eleven-Paralyzer

Motley Crue-Kickstart My Heart

Nirvana-Come As You Are

Seether Gasoline

Hinder-Lips of an Angel

Black Light Burns-Lie

Chevelle-Well Enough Alone

Linkin Park-What I've done

Saliva-Broken Sunday

Disturbed-Stricken

Evans Blue - Cold

Linkin Park-One Step Closer

Santana-Put Your Lights On

Trapt-Stand Up

Pear Jam-EvenFlow

Ozzy Osbourne-I don' Wanna Stop

Cinderella-The Last Mile

Tool-Schism

Megadeth-Symph. of Destruction

3 Days Grace-Never Too Late

Korn-Coming Undone

Hinder-How Long

Saliva-Ladies and Gentlemen

Green Day-Boulevard of Broken Dreams

Puddle of Mudd-Famous

Hinder-Get Stoned

3 doors down-When I'm Gone

Hellyeah-You Wouldn't Know

Operator-Soulcrusher

Disturbed-Stupify

Soundtrack-Schindler's List

Soundtrack-Dances with Wolves

John Dumbar-Dances with Wolves

Blog Data:







Locations of visitors to this page

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia

Who links to my website?



You can search my site here:

site search by freefind advanced



If you want to be updated on this weblog Enter your email here:



rss feed



Friday, April 06, 2007
ALBA, SAKSI BISU KEBANGKITAN FILM INDONESIA

Italy, 5/4 ANTARA - Kota Alba, Piedmonte Italia menjadi saksi bisu bait kebangkitan film Indonesia. Di kota yang mashyur dengan wine itu, film garapan garapan anak negeri, Garin Nugroho, turut dipersandingkan dengan karya produser ternama, Sydney Pollack.

Sepanjang pertokoan di pusat kota Alba, spanduk Festival Film Alba 2007 memenuhi ruas jalan, dan salah satunya terpampang gambar sutradara kelahiran Yogyakarta 6 Juni 1961 itu.

Sepuluh buah film Garin Nugroho bersanding dengan film "Out of Afrika", "The Firm", "Random Hearts", dan "The Interpreter", film  "box office" hasil besutan sutradara andal Hollywood, Sydney Pollack.

Setelah penayangan dua filmnya, "Air" dan "Romi", serta film dokumentasi trilogi politik, Garin banyak menerima pertanyaan tentang latar belakang dan filosofis filmnya serta hubungannya dengan sinematografi dari para kritikus film Eropa.

Mereka bertanya proses pembuatan film Garin dan terutama dalam kerangka, "Bagaimana menjadi seorang Indonesia yang utuh."

Film Garin yang banyak menampilkan keragaman budaya dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia, membuat penasaran masyarakat Italia.

Film-film Garin yang tampil dalam Festival Alba, seperti "Cinta Dalam Sepotong Roti", "Air dan Romi", "Surat Untuk Bidadari", "Daun di Atas Bantal", "Puisi Tak Terkuburkan", "Bulan Tertusuk lalang", "Aku Ingin Menciummu Sekali Saja", "Rindu Kami Padanya" dan "Opera Jawa", merupakan mozaik Indonesia yang unik.

Kepada ANTARA Garin Nugroho mengungkapkan bahwa konsistensinya dalam membuat film yang berisi kritikan sosial itu membuat panitia festival ingin menampilkan film gerapannya sebagai suatu penghormatan atas karya-karyanya.

"Dilema film-film saya lebih banyak terjadi pada pertarungan intelektual, ketimbang penghormatan pada suatu karya yang dihasilkannya selama ini. Masyarakat film Italia memahami betul proses penggarapan film sebagai karya intelektual," ujar Garin

Nugroho.Garin, memang bukan nama yang asing di kalangan masyarakat film Italia. Sebelumnya, karyanya "Opera Jawa" turut dalam Festival Film Venicea dan Roma, yang mendapatkan penghargaan khusus dari walikota Roma.

Tahun-tahun terakhir ini, karya-karyanya mendapat tempat dihati masyarakat Italia dan namanya kian dikenal oleh masyarakat Italia.

Keikutsertaannya dalam festival film yang berlangsung untuk ke enam kalinya tak lepas dari konsistensinya dalam berkarya, sesulit apapun situasinya.

"Ini adalah pengakuan terhadap perkembangan dan kebangkitan industri film Indonesia," ujarnya.

Eforia dan Semu

Di sisi lain, Garin kini tengah prihatin dengan kebangkitan film Indonesia yang dianggapnya masih bersifat semu dan eforia. "Di Indonesia banyak produser dan sutradara yang berbakat, tapi sayang konsistensi menciptanya masih lemah," ujarnya.

Untuk itu, ia berharap masyarakat film terus berjuang. Jangan sampai produser film dan sutradara Indonesia cepat merasa puas dan menjadi generasi instan.

Para sineas Indonesia, sebenarnya memiliki pendidikan yang bagus bahkan banyak yang tamatan luar negeri. Mereka juga memiliki hubungan komunikasi global yang cukup bagus, namun masalahnya kembali pada karya dan kualitas penciptaan yang masih sangat lemah. "Selain itu banyak yang terjebak pada keseragaman," ujarnya.

Meskipun banyak dari mereka yang mengritik, namun mereka tetap mengulang kembali dan bahkan malah lebih parah.

Dulu ada sutradara yang khusus komedi, khusus film drama, sekarang mereka terjebak untuk mengikuti selera pasar. "Seharusnya kita sadar, jika zaman dulu film ditekan oleh militersime, saat ini film kita juga tengah dijerat oleh konsumerisme. Film bukan sekedar fashion atau gaya hidup selebriti," ujarnya.

Garin juga menyayangkan, banyak sutradara yang pernah mendapat didikannya, kini menyerah dengan konsumerisme dan mengerdilkan pasar. Padahal mereka memiliki lebih banyak ruang untuk mencipta.

Hingga kini, menurut Garin, film Indonesia belum bisa diartikan sebagai ruang dialog. Buktinya, sampai saat ini tidak ada penemuan teknologi atau spesial efek dalam pembuatan film Indonesia.

"Sebenarnya film Indonesia masih kalah dengan Malaysia yang mengalami kemajuan pesat," ujarnya.

Kerjasama Kritik Film

Produser Festival Film Internasional Alba Luciano Barisone mengakui mendapat kehormatan bisa membawa film karya Garin Nugroho tampil di Festival Film Alba 2007.

Menurut rencana Garin juga akan merancang kerjasama kritik film alternatif dengan masyarakat film Italia.Kritikus film Italia Paolo Bertolin mengakui, Garin merupakan sutradara yang berhasil menuangkan ragam budaya Indonesia dalam filmnya dan mengomunikasikan ke seluruh dunia.

"Mungkin bagi sebagian orang susah untuk mengerti film Opera Jawa, namun mereka tetap bisa menikmati, karena Garin menampilkan keindahan dan karakter yang khas pada para tokohnya."Garin merupakan harta karun bagi dunia film Indonesia," ujarnya menambahkan.

Film Opera Jawa juga akan diputar di gedung bioskop Inggris pada Juli mendatang.

Oleh Zeynita Gibbons

more photos here

(T.H-ZG/B/T010/T010) 05-04-2007 09:48:06

Posted at 05:38 pm by zeynita
 

[........] [........]