Italy, 5/4 ANTARA - Kota Alba, Piedmonte Italia menjadi saksi bisu bait kebangkitan film Indonesia. Di kota yang mashyur dengan wine itu, film garapan garapan anak negeri, Garin Nugroho, turut dipersandingkan dengan karya produser ternama, Sydney Pollack.
Sepanjang pertokoan di pusat kota Alba, spanduk Festival Film Alba 2007 memenuhi ruas jalan, dan salah satunya terpampang gambar sutradara kelahiran Yogyakarta 6 Juni 1961 itu.
Sepuluh buah film Garin Nugroho bersanding dengan film "Out of Afrika", "The Firm", "Random Hearts", dan "The Interpreter", film "box office" hasil besutan sutradara andal Hollywood, Sydney Pollack.
Setelah penayangan dua filmnya, "Air" dan "Romi", serta film dokumentasi trilogi politik, Garin banyak menerima pertanyaan tentang latar belakang dan filosofis filmnya serta hubungannya dengan sinematografi dari para kritikus film Eropa.
Mereka bertanya proses pembuatan film Garin dan terutama dalam kerangka, "Bagaimana menjadi seorang Indonesia yang utuh."
Film Garin yang banyak menampilkan keragaman budaya dan kehidupan sosial masyarakat Indonesia, membuat penasaran masyarakat Italia.
Film-film Garin yang tampil dalam Festival Alba, seperti "Cinta Dalam Sepotong Roti", "Air dan Romi", "Surat Untuk Bidadari", "Daun di Atas Bantal", "Puisi Tak Terkuburkan", "Bulan Tertusuk lalang", "Aku Ingin Menciummu Sekali Saja", "Rindu Kami Padanya" dan "Opera Jawa", merupakan mozaik Indonesia yang unik.
Kepada ANTARA Garin Nugroho mengungkapkan bahwa konsistensinya dalam membuat film yang berisi kritikan sosial itu membuat panitia festival ingin menampilkan film gerapannya sebagai suatu penghormatan atas karya-karyanya.
"Dilema film-film saya lebih banyak terjadi pada pertarungan intelektual, ketimbang penghormatan pada suatu karya yang dihasilkannya selama ini. Masyarakat film Italia memahami betul proses penggarapan film sebagai karya intelektual," ujar Garin
Nugroho.Garin, memang bukan nama yang asing di kalangan masyarakat film Italia. Sebelumnya, karyanya "Opera Jawa" turut dalam Festival Film Venicea dan Roma, yang mendapatkan penghargaan khusus dari walikota Roma.
Tahun-tahun terakhir ini, karya-karyanya mendapat tempat dihati masyarakat Italia dan namanya kian dikenal oleh masyarakat Italia.
Keikutsertaannya dalam festival film yang berlangsung untuk ke enam kalinya tak lepas dari konsistensinya dalam berkarya, sesulit apapun situasinya.
"Ini adalah pengakuan terhadap perkembangan dan kebangkitan industri film Indonesia," ujarnya.
Eforia dan Semu
Di sisi lain, Garin kini tengah prihatin dengan kebangkitan film Indonesia yang dianggapnya masih bersifat semu dan eforia. "Di Indonesia banyak produser dan sutradara yang berbakat, tapi sayang konsistensi menciptanya masih lemah," ujarnya.
Untuk itu, ia berharap masyarakat film terus berjuang. Jangan sampai produser film dan sutradara Indonesia cepat merasa puas dan menjadi generasi instan.
Para sineas Indonesia, sebenarnya memiliki pendidikan yang bagus bahkan banyak yang tamatan luar negeri. Mereka juga memiliki hubungan komunikasi global yang cukup bagus, namun masalahnya kembali pada karya dan kualitas penciptaan yang masih sangat lemah. "Selain itu banyak yang terjebak pada keseragaman," ujarnya.
Meskipun banyak dari mereka yang mengritik, namun mereka tetap mengulang kembali dan bahkan malah lebih parah.
Dulu ada sutradara yang khusus komedi, khusus film drama, sekarang mereka terjebak untuk mengikuti selera pasar. "Seharusnya kita sadar, jika zaman dulu film ditekan oleh militersime, saat ini film kita juga tengah dijerat oleh konsumerisme. Film bukan sekedar fashion atau gaya hidup selebriti," ujarnya.
Garin juga menyayangkan, banyak sutradara yang pernah mendapat didikannya, kini menyerah dengan konsumerisme dan mengerdilkan pasar. Padahal mereka memiliki lebih banyak ruang untuk mencipta.
Hingga kini, menurut Garin, film Indonesia belum bisa diartikan sebagai ruang dialog. Buktinya, sampai saat ini tidak ada penemuan teknologi atau spesial efek dalam pembuatan film Indonesia.
"Sebenarnya film Indonesia masih kalah dengan Malaysia yang mengalami kemajuan pesat," ujarnya.
Kerjasama Kritik Film
Produser Festival Film Internasional Alba Luciano Barisone mengakui mendapat kehormatan bisa membawa film karya Garin Nugroho tampil di Festival Film Alba 2007.
Menurut rencana Garin juga akan merancang kerjasama kritik film alternatif dengan masyarakat film Italia.Kritikus film Italia Paolo Bertolin mengakui, Garin merupakan sutradara yang berhasil menuangkan ragam budaya Indonesia dalam filmnya dan mengomunikasikan ke seluruh dunia.
"Mungkin bagi sebagian orang susah untuk mengerti film Opera Jawa, namun mereka tetap bisa menikmati, karena Garin menampilkan keindahan dan karakter yang khas pada para tokohnya."Garin merupakan harta karun bagi dunia film Indonesia," ujarnya menambahkan.
Film Opera Jawa juga akan diputar di gedung bioskop Inggris pada Juli mendatang.
Oleh Zeynita Gibbons
more photos here
(T.H-ZG/B/T010/T010) 05-04-2007 09:48:06